Ramadhan Terakhir Ayah: Tangis Rindu di Balik Pintu Surga
Tangis Rindu di Balik Pintu Surga
Malam itu, angin berembus pelan. Cahaya bulan sabit mengintip di balik jendela, sementara suara azan Isya berkumandang syahdu dari masjid dekat rumah. Aku duduk bersila di ruang tamu, menatap kalender yang menggantung di dinding. Satu pekan lagi, Ramadhan akan tiba.
"Tahun ini kita tarawih bareng di masjid, ya?" kata Ayah sambil tersenyum, mengusap kepalaku dengan lembut.
Aku mengangguk penuh semangat. Ramadhan selalu menjadi bulan yang kutunggu. Aroma khas takjil, suara riuh anak-anak berlarian menuju masjid, dan doa-doa yang dipanjatkan dengan harapan menggema di langit malam. Namun, aku tak pernah menyangka bahwa Ramadhan kali ini akan berbeda. Ramadhan ini akan menjadi yang terakhir bersamanya...
Kenangan di Balik Sajian Sahur
Ramadhan pertama tanpa Ayah tiba seperti badai yang menghantam jiwa. Di meja makan, hidangan sahur tersaji seperti biasa, tapi ada satu kursi yang kosong. Biasanya, Ayah duduk di sana, dengan suara beratnya yang selalu membangunkanku dengan panggilan lembut.
"Bangun, Nak. Makan dulu, nanti puasanya kuat," katanya dulu, sambil menyodorkan segelas susu hangat.
Kini, hanya suara detak jam dinding yang terdengar. Aku menatap piring kosong di depanku, mengingat bagaimana tahun lalu Ayah masih ada di sini. Senyum lelahnya, tangannya yang mengusap bahuku, bahkan lelucon kecil yang selalu ia lontarkan saat sahur. Kini, semuanya hanya tinggal kenangan yang berputar seperti film lama di kepalaku.
Tarawih Tanpa Ayah
Masjid penuh dengan orang-orang yang bersujud dan berdoa. Aku duduk di saf belakang, mengingat betapa Ayah selalu menggandeng tanganku menuju shaf pertama. Saat takbir pertama dikumandangkan, air mataku jatuh tanpa bisa dicegah. Aku berusaha menahan tangis, tapi dadaku sesak.
"Jangan nangis, Nak. Doakan Ayah selalu, ya?" Seolah suara Ayah bergema di dalam hatiku.
Aku menggenggam erat sajadahnya yang masih tersimpan rapi, mencium bau wangi yang dulu selalu menempel di tubuhnya. Malam itu, aku sadar, meskipun raga Ayah tak lagi ada, doaku bisa mengirimkan cahaya untuknya di alam sana.
Lebaran Tanpa Kehadirannya
Lebaran tiba dengan warna yang berbeda. Biasanya, Ayah yang paling bersemangat mengajak kami berkeliling ke rumah saudara. Tangannya yang hangat menggenggam jemariku saat bersalaman, suaranya yang tenang saat mengucap maaf.
Kini, aku hanya bisa berdiri di depan pusaranya. Kubawa setangkai bunga melati, kutaburkan perlahan sambil membaca Al-Fatihah.
"Ayah, Ramadhan kali ini aku rindu sekali..." bisikku, membiarkan air mata jatuh ke tanah yang mulai lembab.
Dan di dalam hati, aku tahu. Ayah masih melihatku dari sana, tersenyum seperti yang selalu ia lakukan.
Pesan dari Kisah Ini
Hidup adalah perjalanan, dan kehilangan adalah bagian yang tak terhindarkan. Namun, cinta yang tulus tidak akan pernah benar-benar pergi. Doa kita adalah jembatan yang menghubungkan dua dunia. Untuk semua yang masih memiliki orang tua, peluklah mereka. Katakan betapa kalian mencintainya sebelum waktu tak lagi memberi kesempatan.
Karena Ramadhan bukan hanya tentang menahan lapar dan dahaga, tapi juga tentang merajut kenangan, merawat kasih sayang, dan mengirimkan doa bagi mereka yang telah pergi mendahului.
#Ramadhan #KisahHaru #Kehilangan #DoaUntukAyah #LebaranTanpaAyah #KenanganRamadhan #PuasaPertamaTanpaAyah
Comments
Post a Comment